(sila klik pada di klip video ini, biarkan ia beralun sebelum mula membaca post ini)
Langit cerah memancar.Angin halus membuai.SANG PENCINTA duduk bersila memerhatikan satu persatu KUNTUM dicari. Tapi Sang Pencinta tidaklah seensem mana. Lalu keyakinannya untuk memikat direncat. Sang Pencinta hanya duduk termenung membilang saat agar cinta dicari ditemui.
Tersebutlah alkisah pabila datang seorang Kuntum. Terletak wajahnya. Cuma kurang bergaya. Disapanya Sang Pencinta. Dikenalnya hati dan perilaku. Sang Pencinta malu...malu hendak mengakui Kuntum yang dicari telah ditemui. Takut kecewa dirinya bertepuk sebelah tangan.
Namun, Kuntum itu memberikan seribu sinar cahaya cinta. Sang Pencinta melonjak kegembiraan. Sang Pencinta berazam untuk menjaga Kuntum lebih dari nyawanya. Bila bertelingkah, Sang Pencinta memujuk. Kekallah gembira Sang Pencinta dan Kuntum. Pelbagai tohmahan dilepar, namun tetap dapat ditepis secara aman.
Meskipun kelihatan gembira, namun Kuntum mula memendam perasaan menolak diri Sang Pencinta. Bukan silap siapa. Silap Sang Pencinta juga. Sang Pencinta tidak tahu membahagiakan Kuntum. Kuntum inginkan seseorang yang romantik di sisi. Tetapi Sang Pencinta tidak.
Gagallah Sang Pencinta. Kuntum pernah ingin meninggalkan Sang Pencinta. Cukup remuk perasaan Sang Pencinta ketika itu. Sang Pencinta cuba meminta peluang kedua. Sang Pencinta sanggup melakukan apa sahaja, asalkan Kuntum kekal di sisi.
Sejak dari itu, Sang Pencinta kerap duduk di perigi buta. Dibaling batu. Memikirkan satu persatu langkah untuk membahagiakan Kuntum. Kuntum inginkan mahligai. Dibina Sang Pencinta. Kuntum ingin dibelai. Didodoinya Sang Pencinta. Kuntum inginkan perhatian. Ditinggalnya kerja oleh Sang Pencinta untuk selalu bersama Kuntum.
Lalu, pada suatu malam, Kuntum inginkan kepuasan. Sang Pencinta lari ke perigi buta. Dibalingnya batu ke dalam. Berkocak air keruh di dalamnya. Berkocak juga jiwa Sang Pencinta. Namun Sang Pencinta berkata “tidak ada apa-apa wahai si Hati, janganlah engkau menangis. Inilah langkah terbaik untuk mengelakkan Kuntum melangkah pergi”. Sang Pencinta cuba cekalkan hati.
Diajaknya buah BERI masuk ke mahligai. Manis wajahnya semanis isinya. Kuntum gembira melihatnya. Berkenallah Beri dan Kuntum. Jiwa Sang Pencinta mula berkocak.
Tabah..tabah...tabah...itulah yang sering disematkan Sang Pencinta. Akhirnya Sang Pencinta merelakan tubuh Kuntum dinodai Beri. Sang Pencinta memerhatikan sahaja. Bergeletar seluruh tubuh Sang Pencinta. Dua bibir bersatu. Hancur remuk perasaan Sang Pencinta. Ketika itu, isi hati Sang Pencinta menjerit. Kuntum, aku sangat sayangkan dikau. Tapi aku tahu, aku tidak mampu memberikan kepuasan kepada dikau. Aku harap ini mampu walaupun aku kelihatan DAYUS.
Walaupun hati Sang Pencinta cekal, namun hakikatnya hatinya telah dirobek. Sang Pencinta berlari ke perigi, lalu menangis menatap potret Kuntum yang selalu tersemat di dalam poketnya. Setelah sekian masa berlalu, Sang Pencinta pulang kembali. Melihat wajah Kuntum kepuasan, hati Sang Pencinta gembira di saat pilu menyelubungi...
Bagi Sang Pencinta, “Kuntum...engkaulah segalanya. Akan kucuba penuhi kehendak dirimu selagi badanku kanun di sisi nyawa.”...Berguguran air mata Sang Pencinta. Namun, jika itulah titik hitam yang perlu ditempuh agar kekal bersama orang yang disayangi, Sang Pencinta akan tetap menempuhinya...
~~Tak daya menahan air mata
Dan meratapi hiba menyesal dan meronta oh
Hatiku kan selama memuja dan menyinta
Kau kekasihku
Hilang~~
Dan meratapi hiba menyesal dan meronta oh
Hatiku kan selama memuja dan menyinta
Kau kekasihku
Hilang~~



No comments:
Post a Comment